Daisypath Anniversary tickers

Daisypath Anniversary tickers

Selasa, 24 April 2012

SEJARAH ETIKA HANS JONAS “PRINSIP TANGGUNG JAWAB”


Riwayat Hidup
Hans jonas adalah seorang filosof Jerman-Amerika berketurunan yahudi. Jonas studi dibawah bimbingan Husserl, Heidegger, dan Bultmann. Tahun 1933, sewaktu Adolf Hitler mengambil alih kekuasaan, Jonas meninggalkan Jerman dan pergi ke Palestina. Jonas sempat tertarik pada gerakan Zionis, tetapi kemudian meninggalkannya. Jonas pindah ke Kanada pada tahun 1949. Jonas mengajar di Montreal dan Ottawa di Kanada,dan sejak tahun 1955 menetap ke Amerika Serikat. Jonas menerbitkan sebuab buku yang berjudul Das Prinzip Verantwortung. Tlersuch einer ethic fur the teclznalogisclze : ivilisation (prinsip tanggung jawab. Percobaan sebuah etika bagi keberadaan teknologis pada tahun 1979.
Jonas mengembangkan etikanya dengan melihat seluruh sejarah filsafat barat sebagai berikut:
1.      Keadaan manusia, ditentukan oleh kodrat manusia dan kodrat realitas, pada hakikatnya tetap untuk selama-lamanya.
2.      Atas dasar keadaan manusia ditentukan oleh kodrat manusia dan kodrat realitas maka, apa yang baik bagi manusia dapat ditentukan dengan gampang dan jelas.
3.      Jangkauan tindakan manusia, dan karena itu tanggung jawab manusia amat terbatas.
Menurut Jonas, pengandaian-pengandaian ini tidak berlaku ladi di masa ini, dan oleh karena itu kita membutuhkan sebuah etika yang baru.
PEMIKIRAN HANS JONAS
Etika Tradisional
Jonas melihat bahwa etika tradisional tidak lagi mencukupi untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan di mana teknologi menjadi suatu bagian yang sangat menentukan kehidupan manusia. Teknologi telah mengamplifikasi semua perbuatan manusia yang belum pernah dibayangkan oleh etika tradisional. Manusia mengeksploitasi alam demi keuntungannya sendiri dengan teknologi yang diciptakannya,. Sebagai contoh, mesin chainsaw menebangi hutan; mesin dongfeng untuk mengeruk emas yang ada di perut bumi. Revolusi Industri tidak bisa melihat efek pencemaran lingkungan yang akan disebabkan olehnya sebagai akumulasi beberapa abad kemudian. Kemajuan teknologi pengobatan juga tidak bisa melihat akibat ledakan penduduk karena membaiknya angka harapan hidup. Teknologi pertanian yang menaikkan produktivitas pangan telah membawa masalah bagi kesehatan umat manusia. Kemajuan teknologi, di satu sisi, memang membuat hidup manusia menjadi lebih mudah, namun di sisi lain kemajuan itu telah membuat alam rusak. Sistem finansial yang membawa pada kemakmuran ternyata sangat rentan dan memiliki dampak yang sangat besar bagi masyarakat terutama yang paling miskin, jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Siapa yang bermodal, dialah yang menguasai ekonomi, politik dan teknologi. Manusia yang tidak punya modal akan semakin tergusur dan terjepit. Jumlah orang miskin pun semakin bertambah. Generasi-generasi kita ke depan terancam. Dalam situasi seperti ini, etika tradisional, yang hanya memperhatikan akibat tindakan manusia dalam lingkungan dekat dan sesaat, tidak memadai lagi. karena itu kita membutuhkan sebuah etika yang baru, yang menuntut tanggung jawab akan masa depan.
Etika baru Jonas ini melawan etika deontologis yang menjamin selama manusia mendasarkan tindakan pada prinsip-prinsip etis, maksud baik misalnya yang akan menjamin kebaikan. Jonas melihat bahwa ini tidak memadai, maksud baik tidak menjamin kebaikan di masa datang, karena manusia tidak sempurna, manusia tidak bisa memahami seluruh konsekuensi dari tindakannya, baik dalam skala ruang maupun waktu.
Heuristika Ketakutan
Etika Jonas berangkat dari heuristika ketakutan. Heuristika ketakutan adalah membayangkan sebuah konsekuensi di masa depan, seraya menumbuhkan perasaan sesuai dengan yang kita bayangkan tersebut. Hanya dengan cara seperti ini, menurut Jonas, kita bisa menghadirkan sebuah etika di dalam dunia sekarang ini.
Untuk itu Jonas merinci empat prinsip umum etikanya:
1.      Bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat-akibat tindakanmu dapat diperdamaikan dengan kelestarian kehidupan manusiawi sejati di bumi.
2.      Bertindaklah sedemikan rupa sehingga akibat-akibat tindakanmu tidak sampai merusak kemungkinan-kemungkinan kehidupan manusia dimasa depan.
3.      Jangan membahayakan syarat-syarat kelestarian kehidupan tak terbatas umat manusia di bumi.
4.      Dalam pilihanmu sekarang dan keutuhan manusia mendatang harus menjadi bagian dan tujuan kehendakmu.
Dengan demikian, ramalan negatif akan masa depan yang buruk harus didahulukan, meskipun ramalan itu belum pasti. Manusia bisa hidup jika ramalan yang baik tidak terwujud, namun manusia jelas tidak bisa hidup kalau ramalan yang buruk terjadi, sekecil apa pun probabilitasnya. Mendahulukan ramalan yang baik dengan mengesampingkan ramalan yang buruk, apalagi yang mempertaruhkan seluruh umat manusia, secara etis tidak dapat dibenarkan. Manusia dapat hidup tanpa keuntungan tertinggi, tetapi tidak dengan keburukan tertinggi.
Jonas kemudian menunjukkan bahwa etika tradisional juga belum mencukupi untuk membela kepentingan umat manusia di masa datang. Yang pertama, di dalam etika tradisional, manusia bertanggung jawab terhadap subjek yang ada, tetapi terhadap subjek yang belum hadir, etika tradisional diam. Etika masa depan justru menuntut manusia juga untuk bertanggung jawab atas subjek yang belum hadir itu. Yang kedua adalah prinsip timbal balik dalam keadilan berdasarkan persamaan hak yang biasa berlaku dalam etika tradisional. Etika tradisional juga tidak berlaku di sini. Tidak ada timbal balik dalam hal tanggung jawab akan masa depan. Masa depan tidak bisa membalas kebaikan masa lalu, mereka hanya merasakan akibat darinya. Jonas menunjukkan bahwa ini justru adalah kekuatan etika tanggung jawab, yaitu etika tidak bersifat timbal balik.
Pemahaman atas pembelaan Jonas terhadap masa depan, manusia harus memahaminya dari sebuah kalimat bahwa “apa yang ada, memang sebaiknya ada.” Ini mengacu pada kehidupan. Karena kehidupan itu ada, maka manusia harus dipertahankan. Untuk menyadari bahwa sesuatu itu ada dibutuhkan suatu refleksi, dan dari seluruh makhluk hidup hanya manusialah yang sudah sampai pada titik ini. Oleh karena ia telah sadar bahwa kehidupan itu ada, maka tanggung jawab untuk melestarikan seluruh kehidupan jatuh kepadanya.
 Jonas dengan menggunakan teori evolusi menjelaskan bahwa kehidupan adalah sebuah puncak dari evolusi anorganik. Kehidupan telah hadir maka, kehidupan harus dipertahankan. Begitu kehidupan hadir, maka manusia lahir dengan dorongan untuk mempertahankan dirinya. Dorongan ini begitu primordial bagi kehidupan dan mewarnainya. Keanekaragaman alam yang merupakan proses evolusi juga menunjukkan bahwa keanekaragaman kehidupan itu memang ada, dan alam juga harus dipertahankan.
Jonas kemudian melihat adanya keterarahan dalam evolusi, dengan manusia sebagai hasil evolusi tertinggi. Kesadaran, buah evolusi dalam manusia yang adalah puncak dari evolusi juga harus dipertahankan. Kesadaran ini menuntut tanggung jawab, dengan pengandaian, semakin tinggi derajat di dalam ekosistem, semakin besar tanggung jawabnya. Alam yang tidak berdaya tidak membalas perbuatan kita, justru itu alam semakin menuntut manusia untuk bertanggung jawab kepadanya.
Tanggung Jawab akan Masa Depan
Immanuel Levinas juga merumuskan etika tanggung jawab, tetapi etika tanggung jawab Levinas berhenti pada orang lain yang muncul di hadapan kita. Levinas Telah merumuskan sangat baik mengapa kita harus bertanggung jawab pada orang lain. levinas mengacu pada pengalaman primordial. levinas berhenti di situ dan tidak bisa menjelaskan keadilan. Keadilan yang adalah sebuah ide hasil refleksi seperti berada di luar jangkau Lévinas, karena keadilan berhubungan dengan “banyak” yang lain.
Etika tanggung jawab Jonas memperlihatkan bahwa bertanggung jawab pada orang lain ini belum cukup. Tanggung jawab tidak berhenti di situ. Tanggung jawab juga meluas pada subjek di masa depan yang belum lahir. Untuk itu Jonas memperluas etika tanggung jawab dari Lévinas dengan bukan saja menjadikan pertemuan manusia dengan orang lain sebagai tanggung jawab. Jonas menjadikan pertemuan dengan “orang lain yang belum lahir” juga sebagai tanggung jawab manusia. Tanggung jawab manusia bukan hanya pada orang lain secara langsung, melainkan tanggung jawab akan kelestarian seluruh spesies umat manusia. Subjek masa depan ini malah lebih tidak berdaya dari muka telanjang yang hadir di muka manusia sekarang. Subjek masa depan memanggil manusia untuk tidak mengacuhkannya apalagi membunuhnya; Subjek masa depan memanggil manusia untuk bertanggung jawab atas mereka.
Jonas juga memperkuat etika tanggung jawab Lévinas dalam hal ketimbalbalikan. Jonas menunjukkan bahwa kekuatan etika tanggung jawab justru adalah di saat tanggung jawab tidak timbal balik. Kehadiran subjek di hadapan manusia yang menuntut tanggung jawab, menuntut manusia tanpa untuk berpikir akan adanya timbal balik. Jonas juga memperluas etika tanggung jawab Lévinas tidak hanya pada yang lain sebagai manusia melainkan seluruh alam. Alam hadir di hadapan manusia juga sebagai yang lain dan yang total. Alam tidak berdaya, dan manusia bisa membunuhnya. Alam hadir juga menuntut supaya manusia bertanggung jawab atas dirinya, sama seperti manusia bertanggung jawab terhadap manusia yang lain.
Kekurangan Etika Jonas
Etika Jonas bukannya tidak bermasalah. Jonas meninggalkan sebuah pekerjaan rumah, yaitu bagaimana manusia menjalankan tanggung jawabnya tersebut. Pertanyaan ini sulit untuk dijawab karena manusia berada pada tingkat moralitas yang berbeda. Jonas memberikan usulan untuk menjawab masalah dengan kediktatoran. Kediktatoran adalah sebuah hasil refleksi walaupun kediktatoran adalah sebuah kediktatoran yang baik, telah melampaui pengalaman fenomenologis, yang menuntut manusia untuk tidak membunuhnya dan memperlakukan alam sebagai totalitas. Diktator menuntut manusia untuk bertindak keras terhadap yang lain, jika manusia melihat bahwa mereka membahayakan seluruh umat manusia. Di sini jonas dihadapkan dengan prinsip keadilan.
Kelebihan Etika Jonas
Dari pemikiran Jonas ini dapat diketahui bahwa Jonas lebih mengedepankan tanggung jawab terhadap alam. Tanggung jawab bukan hanya pada orang lain secara langsung, melainkan tanggung jawab manusia akan kelestarian seluruh spesies umat manusia.

Sumbangan Bagi Indonesia
Sumbangan pemikiran Hans Jonas dapat diaplikasikan dalam bidang pertanian. Yaitu pembuatan pestisida alami. Dengan pestisida ini diharapkan tanaman yang akan dikonsumsi manusia tidak berbahaya begitu juga untuk kesehatan tubuh manusia, sehingga proses evolusi berlangsung dengan baik. Selain itu pestisida ini tidak mencemari udara dan lingkungan.
Sumbangan pemikiran Jonas dalam Arsitektur adalah saat perencanaan pembangunan sebuah bangunan yang memiliki bukaan atau sirkulasi udara yang cukup banyak dan baik, sehingga meminimalkan penggunaan AC yang dimana penggunaan ini dapat merusak lapisan ozon di bumi. Selain itu, pada perencanaan tata kota diperluas dan diperbanyak ruang terbuka atau ruang hijau yang dapat membantu penyaringan udara bersih.
Sumbangan pada bidang penggunaan bahan bakar minyak pada kendaraan dan juga pada listrik diberlakukan pembatasan. Karena jika tidak dibatasi maka, Bahan bakar yang ada di dalam bumi akan habis, sehingga akan menyengsarakan manusia yang akan datang. Perlu adanya energi pengganti yang dapat menggantikan bahan bakar yang ada sekarang, dan pengganti ini haruslah yang memiliki sifat ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Magnis-Suseno, Franz. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta:Kanisius, 2000
Sjursen, Harol P. Hans Jonas on “Responsibility” 2003. http://homepage.mac.com/haroldsjursen/Jonas_Responsibility.htm. diakses tgl 23 maret 2012 pukul 14:18.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar